Strada.sch.id–Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati tiap tanggal 5 November. Peringatan tersebut berdasarkan Keppres No.4 Tahun 1993 yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Tujuan ditetapkannya tanggal ini sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional agar masyarakat dapat meningkatkan kepedulian, perlindungan, dan pelestarian puspa dan satwa nasional. Dalam peringatan tersebut, sekolah SMP STRADA BL juga terlibat mengkampanyekan untuk ikut menjaga dan melestarikannya supaya generasi penerus bisa melihat dan merasakan keberadaannya. Kampanye tersebut menggunakan kolase photo yang menggunakan twibbon kemudian diupload ke media sosial.
Telah 27 tahun sejak ditetapkan, namun kesadaran masyarakat akan pelestarian Puspa dan Satwa Nasional masih minim, khususnya Satwa Nasional. Maraknya penebangan hutan secara liar membuat Satwa semakin berkurang karena habitatnya semakin menyempit. Tidak hanya berhenti pada penebangan saja namun banyak pemburu binatang yang kemudian dikonsumsi atau diperjual belikan untuk dimanfaatkan kulit atau bulunya.
Berikut yang tergolong sebagai tanaman Puspa Tanah Air Indonesia
- Bunga Melati Putih (Puspa Bangsa)
Bunga melati putih adalah Puspa Nasional Indonesia dan warnanya yang putih merupakan lambang kesucian. Bunga dengan nama latin Jasminum sambac atau sinonim Nyctanthes sambac ini memiliki aroma khas dengan wangi lembut. Banyak tradisi di Indonesia menggunakan bunga melati sebagai simbol kesucian, keagungan, kesederhanaan dan ketulusan. Selain itu, bunga ini juga memiliki makna keindahan dan kerendahan hati.

- Bunga Anggrek Bulan (Puspa Pesona)
Tanaman ini banyak ditemukan di kios tanaman. Tanaman ini akan berbunga dalam waktu 1 tahun sekali. Anggrek Bulan adalah bunga dengan nama latin Phalaenopsis amabilis dan dijuluki sebagai Puspa Pesona Indonesia. Bunga ini memiliki kelopak lebar, memanjang dan berwarna putih.

- Bunga Padma Raksasa (Puspa Langka)
Tanaman ini dapat ditemukan di Kebun Raya Bogor. Rafflesia arnoldii atau Bunga Padma Raksasa adalah Bunga Nasional Indonesia dengan status Puspa Langka. Bunga berukuran besar mencapai diameter 100 cm dan berat 10 kg ini juga menjadi flora identitas Provinsi Bengkulu.

Nama Rafflesia arnoldii diambil dari gabungan pimpinan ekspedisi dan penemu bunga ini, yaitu Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin ekspedisi dan Dr. Joseph Arnold sebagai penemu bunga.
Satwa Nasional yang dilindungi dan keberadaannya semakin berkurang
- Komodo
Berdasarkan data Kementrian Lingkungan Hidup per tahun 2019 populasi Komodo di Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT) berjumlah 3.022 ekor. Telah mengalami peningkatan dibandingkan degan tahun sebelumnya. Hampir keseluruhan komodo terdapat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Hanya sebanyak 7 ekor di Pulau Padar, 69 ekor di Gili Motang, dan 91 ekor di Nusa Kode.

- Harimau Sumatra
Saat ini, menurut Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatra Utara diprediksi tinggal 33 ekor lagi. Sedangkan untuk keseluruhan di wilayah Pulau Sumatra, jumlah yang tersisa hanya 400-600 ekor.

- Gajah Sumatra
Konflik masalah gajah terus berkepanjangan, hal ini terjadi karena habitat gajah semakin sempit. Maka sering kali gajah masuk perkampungan atau merusak tanaman milik petani. Bermula dari situlah petani memburu gajah. Selain itu, ada juga yang sengaja memburu gajah untuk diambil gadingnya. Saat ini populasi gajah di Aceh sekitar 539 ekor.

- Badak
Berdasarkan data dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) saat ini tercatat, ada 74 individu. Rinciannya, badak dewasa sebanyak 59 individu (32 jantan dan 27 betina), serta anakan sebanyak 15 individu (8 jantan dan 7 betina).

Foto dokumentasi twibbon para guru






Mantap….lanjutken pak Tius…
Terima kasih pak atas dukungannya